persepsi

MENAPAK MASA DEPAN MELALUI PROGRAM LOCAL HARVEST

Oleh: Taryanto Wijaya

 (Rembang, 20 Juli 2018, PERSEPSI). Panasnya udara pantai dengan kandungan uap air yang tinggi menjadi masa panen bagi petani garam dampingan PERSEPSI di Kabupaten Rembang. Tubuh tubuh dengan lengam legam kehitaman penuh keringat tampak bersemangat di petak petak pengeringan kolam garam rakyat. Suanan dan rasa ceria muncul ketika gundukan gundukan kristal putih berasa asin telah tampak menggunung di hamparan kolam tambak  yang mengering.

Program  PUGAR (Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat) menjadi kata lokal yang dipakai untuk menyederhanakan Local Harvest  yang rumit, di tengah  SDM dan kelembagaan petani garam  yang lemah dan tata niaga garam nasional yang belum memihak kepada rakyat kecil.

Program yang telah melewati tahun pertama ini mencoba menelisik bersama masyarakat sendi sendi dasar yang menjadikan lemahnya posisi tawar petani garam dalam cara panen dan tata niaga perdagangan garam secara nasional. Ini sebuah upaya memasukan  serat baru ke dalam benang ruwet yang telah berjalin berkelindan tanpa jelas ujung pangkalnya.

Namun kerja cerdas tim pendamping telah mulai menguak aspek  dan tahapan kritis petani garam kita yang menjadi tulang punggung penyediaan garam mineral kebutuhan konsumsi  mineral essensial keluarga Indonesia yakni NaCl (natrium chlorida) sebagai  zat penting yang meningkatkan kecerdasan berpikir, kesehatan tubuh manusia dan cita rasa masakan Indonesia.

Memang tidak sedikit tantangan yang dihadapi.  Lemahnya kelembagaan petani tambah  garam, dan penguasaan tataniaga garam oleh tokoh tokoh lokal yang berlindung di balik koperasi yang ada menjadi kesulitan meretas jerat petani  tambak  garam kita adalah persoalan melingkar lingkat yang nyaris tak pernah usai.

Revitalisasi Koperasi Sari Makmur dipilih oleh PERSEPSI sebagai  sasaran strategis untuk pemberdayaan petani  tambak garam. Koeprasi  yang  berdiri sejak 1999, namun baru diaktifkan kembali  2015, sekretariatnya mengambil tempat di  rumah  ketua di Desa Tambak Agung. Sedangkan anggotanya menyebar di desa Tambak Agung sendiri serta Desa Tunggul Sari, Desa Mojowarno dan Desa Dresi Kulon di Kecamatan Kaliori, dengan jumlah  sebanyak 115 orang.  

Koperasii  Sari Makmur sendiri memiliki modal  Rp 25 juta berasal dari simpanan anggota berupa SP : Rp 50.000,- dan SW : Rp 5.000,-. Keputusan RAT terakhir menunjukan SP naik menjadi Rp 200.000,- dan SW sebesar Rp 10.000,- dengan pembayaran dilakukan setahun sekai pada waktu musim garam. Usaha utama  bersama adalah yang dilakukan Koperasi ini adalah 1) pemasaran garam ; 2) pengadaan surat jalan penjualan garam; 3)penyambungan pipa dan 4) pengadaan geo isolator, 5)  Pertemuan rutin bulanan hanya dilakukan oleh pengurus pada tanggal antara 1 – 10 setiap bulan.

Kondisi  produksi garam yang diproduksu berupa garam grosok, dengan penjualan langsung maupun dikumpulkan di gudang garam yang berada di lahan masing-masing. Kebanyakan penjualan dilakukan ke tengkulak. – Kandungan NaCl rata-rata rendah berkisar antara 83 – 88 (sudah melalui pencucian). Pencucian untuk menaikkan kadar NaCl. Sedangkan standar untuk garam industri kadar NaCl nya > 93. Pengukuran kadar NaCl dengan menggunakan alat yang dimiliki oleh Dinas Kelautan dan Perikanan .

Sementara itu, pengolahan garam oleh koperasi belum dilakukan secara maksimal karena keterbatasan alat yang dimiliki, yakni berupa mesin selep, oven dan ayakan. Sedangkan yang belum dimiliki adalah alat untuk pencucian, sedangkan standar harga garam hanya berdasar penglihatan secara kasat mata. Harga untuk Kw 1 yaitu yang bersih, putih adalah Rp 1.150,.  Pembuatan garam ada yang menggunakan geo isolator maupun tanpa alas dan ini berpengaruh terhadap waktu, kapasitas dan kualitas produksi. Dari kapasitas produksi selisih 1/3 lebih banyak yang memakai geo isolator.  – Modal yang dibutuhkan dalam 1 kali musim panen berkisar Rp 100 juta rupiah.

Program ini menjadi tantangan baru bagi PERSEPSI untuk bisa hidup dan berkembang  dan berdaya bersama dengan para petani garam di wilayah pantai pantai di Indonesia, dan diawali dari keberhasilan di Rembang. (tw-ppsdi)

PERSEPSI PROMOSIKAN HUTAN RAKYAT LESTARI STANDAR FSC DI PACITAN

(Pacitan/29/4/2019).  Usai pendampingan 8 bulan, PERSEPSI mengukuhkan hutan rakyat di bawah  Forest Management Unit (FMU)  Gabungan Kelompok Tani Hutan (Gapoktanhut)  Punung Wana Lestari siap dinilai oleh Lembaga Sertifikasi dengan standard FSC yang berlaku secara internasional. Aca ini dilakukan di Sekretariat Unit Manajemen ini yang berlokasi di Desa Piton, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Propinsi Jawa Timur, pada Senin, 29 April 2019.

Pembukaan dilakukan oleh Direktur PERSEPSI,Yanti Susanti, dan disambut baik oleh wakil  Camat Punung, dan Kepala Cabang Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Timur Wilayah I, jajaran manajemen PERSEPSI, para perwakilan dari  desa, dan juga Petugas Kehutanan Lapangan (PKL) se Kabupaten Pacitan. Acara pembukaan ini juga dihadiri para Pengurus Forest Management Unit (FMU) yang terdiri dari 9 desa di Kecamatan Punung, yakni 1)Bomo, 2) Piton, 3) Kendal, 4) Wareng ,5) Mantren, 6) Mendolo Lor, 7) Mendolo Kidul, 8) Punung dan 9) Sooka. Total luas  wilayah yang hutan rakyat yang diajukan untuk penilaian ini adalah 2.758 hektar, yang dimiliki oleh 7.452 kesatuan keluarga, dengan jumlah pohon sebanyak 465.204 batang, dengan jatah tebang tahunan 8.354 m3, dan jatah tebang bulanan 696,4 m3.

Penilaian dilakukan oleh PT SCS Global Service sebagai pihak ketiga independen sebagai Lembaga Serifikasi, yang menghadirkan 3 auditor dan bidang keahlinya  yakni Ir. Thesis Budianto (Produksi) , Ir Asep Rusdiana (Social) , dan Dr. Wahyu Hidayat. (Ekologi). Penilaian berlangung dengan menggunakan 10 Prinsip, 66 Kriteria sebagaimana tertuang dalam, berlangsung dari tanggal 29 April  sd 3 Mei 2019, dengan metode desk audit untuk memeriksa kelengkapan dokumen, wawancara dengan para pengurus dan para pihak, verifikasi lapangan dan triangulasi data.

PT SCS Global Services menilai FMU Punung Wana Lestari dengan standar sebagai berikut: 1) FSC-STD-IDN-01-01-2013 untuk menilai kelestarian hutannya, dan 2) SCS-CoC Indicator for Forest Management Enterprise untuk menilai ketelusuran  dan keterlacakan asal  usul kayu, dan 3) FSC -STD-30- V 5.0 untuk Penggunaan Trademark Standar  FSC.

 

Ditandaskan oleh Direktur PERSEPSI dan diaminkan oleh Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Timur, bahwa Sertifikasi pengelolaan hutan rakyat lestari ini diharapkan tidak terhenti hanya pada selembar kertas sertifikat, tetapi mampu meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat sejalan dengan pengolahan hasil hutan kayu dan hasil hutan bukan kayu, beserta produk produk turunannya yang bisa diserap oleh industri dan pasar dalam dan luar negeri.

(ppsdi/tw-2019)

ARAH PENAJAMAN PROGRAM INOVATIF PERSEPSI

oleh: Taryanto Wijaya

Sebagai NGO yang memiliki pengalaman panjang bergelut dengan pengembangan masyarakat, kini PERSEPSI dihadapkan pada tantangan berat. Program program yang dikembangkan 15 tahun yang lalu perlu dievaluasi secara mendasar baik secara internal maupun eksternal. Evaluasi itu penting untuk menemukan ketepatan arah program untuk mewujudkan visi misi lembaga, sumberdaya yang dibutuhkan serta kebijakan baru apa yang diperlukan untuk mendukiung itu.

Setidaknya ada 4 bidang yang butuh penajaman arah: mau dibawa kemana pengelolaan program program tersebut. Pertama, program pemberdayaan perempuan dan UMKM yang selama ini menempatkan PERSEPSI lebih sebagai lembaga pendamping dan prakarsa pemasaran produk kelompok dampingan. Kedua, program pertanian kehutanan dan lingkungan hidup, dengan satuan pengelola hutan (forest management unit) yang menyebar di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jambi, Kalimantan, serta Papua dengan standar wajib seperti SVLK untuk legalitas kayu, maupun standar sukarela pengelolaan hutan lestari seperti PHBML LEI maupun SLIMF FSC, yang juga lebih menempatkan PERSEPSI sebagai lembaga pendamping untuk sertifikasi dan prakarsa pemasaran awal. Program Studi dan Pelatihan, yang masih mencari bentuk apakah akan dilakukan sebagai sesuatu yang berdiri sendiri ataukah akan juga support untuk divisi yang lain, dengan membawa agenda latihan sendiri yang relevan. Keempat, pengembangan SDM dan pendayagunaan asset terkait dengan prakarsa ekowisata.

Penajaman arah yang perlu ditempuh untuk keempat bidang itu  sekurang kurangnya meliputi 4  hal sebagai berikut: 1) memberikan kontribusi pemasukan bagi sebagian pembiayaan program PERSEPSI, 2) peningkatan SDM yang memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk penanganan program interen dan juga dibutuhkan oleh pihak ekstern, 3) sistem dokumentasi dan informasi yang lebih baik untuk pembelajaran program dan publikasi secara kreatif yang memiliki nilai jual lebih luas, dan 4) kemampuan untuk melahirkan program program baru yang lebih inovatif dan terintegrasi antar bidang dalam satu wilayah.

Wonogiri, 18 April 2018

MENGIBARKAN BENDERA INOVASI DESA 2018 sd 2020

Wonogiri, 10/1/2019.  Kesulitan memasuki desa dengan isu isu lama terpatahkan dengan adanya pengelolaan isu inovasi desa. a Bermodalkan pengalaman lapang, jaringan kerjasama, dan sumberdaya manusia dimiliki, dan keterlibatan di tim tim kelompok kerja di sejumlah kabupaten, maka langkah baru ditempuh elalui 3 jalur, yakni menjadi Anggota Tim Inovasi Kabupaten dalam Program Inovasi Desa PID, dan Tim Penyedia Peningkatan Kapasitas Teknis Desa P2KTD.

Rintisan Inovasi Desa digeluti masuk di 4 kabupaten, yakni Bantul , Kulonprogo dan Wonogiri, serta Klaten. Inovasi Desa merupakan program besar yang dirintis oleh Kementerian Desa,bekerjasama dengan Kantor Pemerintahan Desa di tiap Kabupaten. Inovasi sebagai proses menemukan dan membangun nilai nilai baru, diharapkan bisa menjadi awalan baru bagi PERSEPSI untuk masuk lebih dalam ke desa desa di 4 kabupaten tersebut guna mewujudkan visi dan misi kelembagaan yang ada, serta pengembangan program program baru.

Kompetensi PERSEPSI di 4 kabupaten tersebut dipandang lebih mampu dalam pengembangan untuk bidang pendampingan sumberdaya manusia untuk isu isu sebagai berikut: 1) peningka atan kapasitas teknis budidaya tanaman pertanian (jeruk keprok, cabai organik, 2) budidaya jamur tiram,  3)  pembuatan gula semut, 4) perencanaan desa wisata.

Berikut adalah desa desa di Kabupaten Wonogiri yang telah memanfaatkan jasa layanan PERSEPSI sebagai P2KTD.

 1) Kec. Sidoharjo, desa Mojoreno pelatihan pengolahan jamur tiram,bermitra Jarpuk Solo, Ngudi Lestari

2) Kec. Bulukerto, fasilitasi pelatihan budidaya jeruk keprok,

3) Kec. Jatipurno, fasilitasi pembuatan kompos,

4) Kec. Paranggupito,  narasumber dan penyelenggara keuangan desa dan monitoring dan survey pengembangan potensi desa.

Pengelolaan Program Inovasi Desa di PERSEPSI dipercayakan kepada Wadir PPSDI dengan melibatkan wadir dan saff lain yang berkompeten serta para pengurus dan pengawas .  Kemendes memperkenalkan program inovasi melalui Bursa Inovasi Desa sejak akhir 2018.

GELIAT MEREBUT HATI DALAM BURSA INOVASI DESA

(PERSEPSI, 12/11/2018). Usai melalui serangkai pendaftaran administratif, penyajian visi misi lembaga, kapasitas keahlian lembaga, akhirnya PERSEPSI berhasil dinyatakan sebagai Penyedia Peningkatan Kapasitas Teknis Desa (P2KTD) dalam rangka Bursa Inovasi Desa (BID) yang menjangkau 600 desa di Kabupaten Kulonprogo, Bantul, Wonogiri, dan Klaten.

Manfaat dari kelolosan tersebut menjadikan PERSEPSI tercatat dalam Direktori P2KTD di 4 kabupaten tersebut yang berpeluang untuk mendampingi Tim Ahli Kabupaten tersebut dalam rangka peningkatan inovasi di desa desa dalam 3 bidang yakni: 1) pengembangan infrastruktur, 2) pengembangan ekonomi dan kewirausahaan, dan 3) pengembangan SDM. Hal itu akan mempengaruhi PERSEPSI pada 3 hal yakni: 1) kesiapan SDM yang ada dan penajaman konsepnya, 2) intensitas komunikasi dengan TIK (Tim Informasi Kabupaten) , 3) penyiapan data dasar kabupaten kabupaten pengembang inovasi desa.

Desa dengan sumberdaya dasa desanya kini menjadi sumberdaya baru untuk menjadi mitra guna mendukung pencapaian cita cita persepsi, melalui skema jasa keahlian penyedia peningkatan kapasitas teknis desa. Sumberdaya kini ada di desa, tinggal bagaimana meyakinkan bahwa kinerja PERSEPSI dalam mendukung inovasi di desa. Tanpa disambung dengan intensitas komunikasi dengan TIK dan pemerintah desa, maka keikutsertaan  PERSEPSI dalam Direktori Inovasi Desa akan hanya menjadi alternatif yang bisa dipilih atau tidak dipilih oleh desa, Sedangkan intensitas komunikasi agar dipilih menjadi sesuatu yang harus dibangun agisa ar menciptakan peluang bisa bekerjasama dengan mereka di tahun 2018 maupun tahun 2019. (tw/ppsdi).

 

KEMITRAAN USAHA SEBAGAI POLA KELOLA PROGRAM PERSEPSI

(Klaten, 5 Nov. 2019). Disadari sepenuhnya, bahwa kecermalang dan kebagusan ide menjadi kunci penting PERSEPSI untuk bisa tetap eksis dan diterima banyak pihak dalam melangkah mencapai cita cita kelembagaan. Tidak mengherankan jika tim program dan manajemen PERSEPSI seperti mengubah halun dan meretas jalan baru dengan segenap lika dan likunya.

“Inovasi menjadi semangat semua lini” tegas Farida Hayati, saat melihat dari dekat proses proses dan kemajuan rintisan program baru 2018 sebagaimana  dimandantkan di Rapat Umum Anggota, maupun Rapat Gabungan dan  Rapat Kerja Tahunan,”karenanya setiap pihak di dalam lembaga ini harus menyuguhkan nilai baru dari proses dan hasil kerjanya” tandasnya.

Menindaklanjuti kebijaan tersebut, sejumlah pendekatan dilakukan untuk bisa meraih kerjasama dengan berbagai lembaga lain melalui skeme kemitraan usaha.

“Kami mencoba memvariasikan antara program sertifikasi pengelolaan hutan rakyat dengan standar FSC, satu model didanai oleh lembaga funding, dan model yang lain melalu kemitraan usaha” kata Edi Supriyanto. Sebagaimana diketahui publik, PERSEPSI didukung oleh World Wild Fund for Nature (WWF Indonesia) untuk penyiapan hutan rakyat di beberapa daerah di Ponorogo, Lumajang dan Pacitan, dan juga oleh PT SOSIAL BISNIS INDONESIA kegiatan serupa di Kabupaten Karanganyar dan Sragen.

Sementara itu, “Upaya menata dan memanfaatkan lahan PERSEPSI sebagai bagian dari rancangan pengembangan ekowisata dikembangkan dengan Dr. Kintoko untuk aspek pengembangan produk olahan dan dengan Dr Baiquni untuk aspek manajemen dan pemasaran” sebagaimana disampaikan  Nasrah di sela rapat gabungan.

“Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, berupa getah pinus telah dijajagi dan sampai kepada penandatangan MoU kerjasama untuk 30 tahun ke depan” tegas Yanti Susanti  melanjutkan pembicaraan hasil negosiasi Wadir PPSDI dengan Direktur PT Aura Bhumi Sejahtera dan PT Sylva Oleum Nusantara di Kabupaten Wonogiri, Ponorogo dan Pacitan. 

“Program Local Harvest mencoba membangun kemitraan antara para petani garam dengan investor usaha berbasis konservasi mangrove di pantai utara Jawa di Kabupaten Rembang” tandas Tri Yuli Umiyati,  Wadir PPUKM yang sedang menyiapkan lokasi dan kelompok sasaran dengan bekerja secara lintas bidang kerja di PERSEPSI. 

Program program di atas menjadi rintisan baru yang masih menyediakan tantangan di sana sini dari segi kebaruan atau inovasi konsep, pendeatan, penataan kelembagaan, fasilitasi pemasaran, dan teknologi pengolahan dan sistem informasi kelembagaan Satuan Pengelola Hutan Rakyat. Pola kelola program dengan kemitraan usaha menunutut PERSEPSI untuk menafsir ulang pemahaman sebagai organisasi nirlaba, maupun peningkatan kapasitas tim dan organisasi dan untuk mendapatkan input guna berdaya dan berjaya dalam jangka panjang.

Klaten,  November 5 , 2018

 

PERSEPSI DAN GNKPA SUB DAS KEDUANG 2018

Wonogiri, 6 September 2018.  PERSEPSI melatih 102 petani dan 13 Petugas Lapang Dinas dalam  Pelatihan untuk Pelatih Konservasi Tanah dan Air di Sub DAS Keduwang , DAS Solo Hulu.  Training of Trainer ini terselenggara berkat kerjasama antara PERSEPSI dengan Nippon Koei Co.Ltd yang menjadi konsultan untuk perencanaan konservasi bendung dan daerah tangkapan air Waduk Wonogiri.

Pelatihan untuk Pelatih ini melibatkan 102 petani  dari 10 desa yang telah didampingi oleh konsultanm dengan rincian sebagai berikut.

Group

No

Desa

Kecamatan

Luas  (Ha)

Kehilangan Tanah (ton/ha/th)

Lahan Target (Ha)

Areal Target CSWMDR II

Desa

Lahan Sasaran

Desa

Lahan Sasaran

Tegal

Permukiman

Total

Tegal

Peka-rangan

Kelompok I – 6 Desa

Paket 3 – 1

1

Balepanjang

Jatipurno

948

497

171

275

273

45

23

341

208

2

Tawangrejo

Jatipurno

518

219

190

401

62

66

26

153

159

3

Jatipurno

Jatipurno

215

105

170

347

4

52

18

74

87

 Sub Total Paket 3-1

1.681

820

177

318

339

163

67

568

454

Paket 3 – 2

4

Jeporo

Jatipurno

740

565

169

219

277

89

41

407

105

5

Mangunharjo

Jatipurno

581

272

144

268

112

64

25

200

192

6

Giriyoso

Jatipurno

411

156

103

233

34

71

17

122

180

 Sub Total Paket 3-2

1.732

993

145

235

423

223

83

729

477

Kelompok II – 4 Desa

Paket 3 – 3

7

Watangsono

Jatisrono

488

187

105

244

18

97

26

140

136

8

Tasikhargo

Jatisrono

467

144

87

216

8

107

7

122

133

 Sub Total Paket 3-3

955

331

192

460

26

204

33

262

269

Paket 3 – 4

9

Mojoreno

Sidoharjo

406

169

142

293

16

97

15

128

236

10

Ngabeyan

Sidoharjo

538

200

157

247

54

39

7

100

171

 Sub Total Paket 3-4

944

369

299

540

70

136

22

228

407

Total

5.312

2.513

813

1.553

858

726

205

1.787

1.607

PERSEPSI menurunkan 3 tim, masing masing dibantu seorang Co Fasilitator dengan rincian dan tanggal pelaksanaan sebagai berikut:

Tim 1, Taryanto Wijaya  dan Asykur Rifani memsilitasi pada 27 sd 29 Agustus 2018, bertempat di Kelurahan Balepanjang, dengan asal peserta dari Kelurahan  Balepanjang, Desa Tawangrejo dan Desa Jatipurno, dengan jumlah peserta 30 orang, dan PPL dan PKL  3 orang  Tim 2, terdiri dari Tri Yuli Umiyati dan Anis Rachmawati,  memfasilitasi pada di Desa Watangsono, dengan para peserta yang berasal dari Desa Giriyoso, Mangunharjo, dan Jeporo, Kecamatan Jatipurno dengan jumlah peserta 30 orang, dan PPL 3 orang. Selanjutnya Tim 3,  Edhy Supriyanto dan Nasrah, memfasilitasi pada tangga 4 sd 6 September 2018 , dengan jumlah peserta 42 orang petani dari 4 desa yakni Mojonero dan Ngabeyan di Kecamatan Sidoharjo, dan Watangsono dan Tasikhargo, Kecamatan Jatisrono, dan Desa Mojoreno dan Desa Ngabeyan Kecamatan Sidoharjo.

Pelatihan untuk Pelatih ini dumaksudkan untuk menyiapkan para pelatih untuk bisa menjadi pemandu bagi Sekolah Lapang Konservasi Tanah dan Air SLKTA dimana eks peserta ToT ini akan menjadi pelatih bagi penangan Titik Erosi (TE) di masing masing desanya.  Pelatihan ini dilakukan selama tiga hari, dengan 1 hari di dalam kelas, dan 2 hari di lapangan, untuk memberikan pemahaman dasar dan pengalaman langsung dalam penanganan konservasi secara terpadu.

PERSEPSI masih memainkan peran sentral sebagai Sekretaris Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air GNKPA di DAS Solo, sejak 2005 hingga 2018 ini, bersama Bappeda Wonogiri mengkonsolidasikan peran peran dinas sektor OPD yang ada di Kabupaten Wonogiri dan DAS Solo secara selara.

(tw-ppsdi)

PERSEPSI DAN TANTANGAN SADAP GETAH PINUS RAKYAT

Wonogiri, 26//2018/PERSEPSI. Hasil hutan kayu sudah banyak didengar. Tetapi hasil hutan bukan kayu belum banyak digarap sebagai isu program yang seksis dan memberi daya dukung bagi pembiayaan operasional PERSEPSI.

Perbincangan dengan sejumlah eks staff Timber Forest Trust, saat bertemu di Jakarta maupun pembicaraan lewat telepon, akhirnya ditindaklanjuti dengan pembicaraan yang lebih operasional menjadi program berbasis dorongan pasar. Getah pinus hutan rakyat menjadi inti pembicaraan antara Tim PERSEPSI dan eks staff TFT sebagai perpanjangan dari kelompok pembeli (Buyer Group). Pembicaraan di Wonogiri pada awal Juli 2018, yang merekomendasikan adanya study mikro atas wilayah pasokan getah pinus dilakukan di Ponorogo dan Pacitan. Walhasil, hasil studi ini diminat kelompok pembeli, dan dijajagi untuk bisa menjadi program bersama dengan buyer group pada hari Minggu 5 Agustus 2018 di Fave Hotel Jl Colomoadu Solo, jam 10.00-12.00.

Akan hadir dalam diskusi tersebut dari PERSEPSI diwakili oleh Yanti Susanti (Direktur), Taryanto Wijaya (Wadir PPSDI), Edhy Supriyanto (Wadir PKLH), dan Tri Yuli Umiyati (Wadir PPUKM). Business Meeting tersebut bertujuan untuk menyekati platform bersama dan pembagian peran dalam pengelolaan dan pemasaran hasil hutan bukan kayu berupa getah pinus rakyat dari sejumlah daerah yang didampingi oleh PERSEPSI. Kabupaten Ponorogo, Pacitan, Tulungagung, dan Wonosobo, menjadi lokus yang ditawarkan untuk kerjasama jangka panjang dengan perusahaan pengolah getah pinus rakyat.

ppsdi tw

PENJAJAGAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU PADA HUTAN RAKYAT BERSERTIFIKAT LESTARI

Wonogiri (PERSEPSI, 6/07/2018).  Bertempat di Aula Kantor Wonogiri, dilakukan diskusi penyiapan penjajagan program baru. Diskusi dihadiri oleh para  Wadir PKLH, PSDM PA, PPSDI dan Bp Sigit dari Timber Forest Trust (TFT) untuk mengusung  gagasan pemanfaatan getah kayu pinus sebagai sumber pendapatan masyarakat selain kayu.

“Potensi ini masih besar dan belum banyak dimanfaatkan. Kami punya jaringan untuk pemasaran yang barangkali bisa digunakan untuk mendayagunakan potensi masyarakat” kata Sigit TFT melalui telepon ketika mengkonfirmasi rencana kehadirannya.

Sebagaimana diketahui potensi getah pinus menyebar  pada desa desa yang diampingi PERSEPSI di hutan rakyat di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Desa Baosan Lor, Baosan Kidul, dan Mrayan  merupakan desa bersertifikat ekolabel dengan standar LEI  maupun FSC. Tetapi karena penguasaan pasar yang kurang baik, serta teknis budidaya yang tidak diajarkan secara baik, menjadikan pinus pinus rakyat.  Desa Baosan Lor telah disertifikasi dengan standar LEI , sedangkan Mrayan dengan standar FSC.

Kegiatan kerjasama pengembangan program diharapkan bisa memperbaiki 1) teknolohi pengelolaan,2) pengembangan kelembagaan, 3) kelancaraan pemasaran  usaha hutan rakyat dan pemanfataan hasilnya bagi masa tunggu panen kayu di tingkat masyarakat.

Sebagaimana diketahui getah pinus merupakan bahan dasar untuk pembuatan gondorukem yang dipakai untuk industri cat, dimana kebutuhannya besar tetapi pasokannya kecil. Selama ini gondorukem banyak dipasok dari Perum Perhutani KPH Lawu DS, dan beberapa hutan rakyat di Lampung. Hutan rakyat di jawa yang mengelola pohon pinus menjadi prioritas untuk mendapatkan dampingan agar mendapatkan nilai ekonomi yang lebih luas. (ppsdi-pklh-tw)

 

PERSEPSI DAN SENGKETA REZIM INFORMASI PENENTUAN KM 0 MATA AIR BENGAWAN SOLO

Wonogiri, 5/7/2018. Hampir setiap orang mengenal lagu ciptaan Alm. Gesang yang mengisahkan tentang Bengawan Solo. Sebagai tempat kehidupan manusia purba sebagaimana dirilis oleh Wikipedia maupun Tim Ekpedisi Kompas dan UNS Solo.Tim ini telah bekerja keras dengan methodologinya sendiri tetapi tidak merujuk dokumen yang lebih tua serta penuturan masyarakat asli yang tinggal di hulu DAS Solo sehingga menghasilkan kesimpulan yang berbeda dengan kenyataan di lapangan. Peta ini menunjukan bahwa Bengawan Solo berhulu di Kali Lanang, yang airnya kering saat musim kemarau.

Tim tersebut menyimpulkan bahwa hulu Bengawan Solo yang ada di Tenggar Desa Jeblogan Kecamatan Karangtengah Kabupaten Wonogiri hanya berupa rembesan rembesan. Sementara tim senior PERSEPSI, sebuah LSM di Wonogiri yang melakukan pendekatan dengan merujuk pada peta Belanda, peta Rupa Bumi Indonesia, dan konsultasi dengan masyarakat setempat menyimpulkan bahwa hulu dan mata air Sungai Bengawan Solo ada di Desa Ngambarsari Kecamaan Batuwarno, Kab. Wonogiri, dimana mata air di Sungai ini mengalir sepanjang tahun dan itu bisa dilihat di lapangan hingga hari ini.

Perbedaan antara peta yang dibuat jaman Belanda dan peta RBI pada masa kini terjadi pada penentuan hulu sejak di pertemuan dua sungai (tempuran kali), yakni Tim UNS dan RBI meyakini Kali Lanang yang berhulu di Desa Jeblogan sebagai Mata Air Bengawan Solo. Ketika hendak mengembangkan program untuk Konservasi Km 0 hulu Bengawan Solo, hal yang semula tidak digagas, kemudian kini mencuat dimana mata air Sungai Bengawan Solo yang sebenarnya.

Hari Rabu, 4 Juli 2018 , sebuah tim kecil  melalukan verifikasi dengan menggunakan pesawat drown untuk melakukan pemantauan udara guna menghasilkan data pembanding sehingga ditemukan dan dapat ditentukan mata air sebenarnya Bengawan Solo itu ada di Desa Jeblogan ataukah Ngambarsari.

Atas keadaan tersebut tim PERSEPSI (Teguh Suprapto dan Taryanto Wijaya) dipandang perlu untuk melakukan focused group discussion (FGD) untuk penentuan posisi mata air Sungai Bengawan Solo, sebagai kawasan lindung dan penentuan kawasan konservasi  dalam rangka kerjasama dengan Kemewntrian Agraria dan Tata Ruang. Keberhasilan menangani hal ini akan menjadi model untuk pengembangan ekonomi lingkungan masyarakat hulu DAS pada 7 Sub DAS besar di Infonesia.

ppsdi – tw

 

Kontak Kami

Perhimpunan untuk Studi dan Pengembangan Ekonomi dan Sosial (PERSEPSI)

 

Kantor Pusat :

Perhimpunan untuk Studi dan Pengembangan Ekonomi dan Sosial (PERSEPSI)

Jl. Klaten-Jatinom Km. 3 Kwaren, Ngawen, Klaten, Jawa Tengah- Indonesia

Telp. +62 272 322211

Fax. +62 272 322865

E-mail. persepsi@indo.net.id

 

Kantor Cabang Wonogiri :

Perhimpunan untuk Studi dan Pengembangan Ekonomi dan Sosial (PERSEPSI)

Jl. Cempaka VI No. 1,  Pokoh, Wonogiri, Jawa Tengah 57615

Tilp/Fax : 0273-322059

Email : persepsi@indo.net,id