Rintisan Program

Rintisan Program

PERSEPSI DITANTANG E-COMMERCE KELOMPOK PEREMPUAN USAHA KECIL MIKRO

(Klaten, 6/8/2020). Akhir 2019 -2020, menjadi lompatan baru dalam pengembangan program PERSEPSI. Bermitra dengan Coca Cola Foundation Indonesia (CCFI) dan Assosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK), PERSEPSI menapaki jalan baru dalam pendampingan untuk pengembangan jalur pemasaranan prodik kelompok perempuan usaha kecil mikro.

Jika selama ini pemasaran produk kelompok perempuan usaha kecil mikro dilakukan di pasar pasar pasar tradisional maupun dengan dijajakan dari rumah ke rumah, maka di masa pandemi Covid 19, pemasaran dilakukan secara online. Kerjasama untuk Program Peningkatan Ekonomi Lokal dan Pengembangan Produk Unggulan Perempuan Yang Berkelanjutan Melalui E-Commerce di Wilayah Provinsi Jawa Tengah mengambil lokasi di Kabupaten Wonogiri,Klaten, Sukoharjo, Surakarta dan Rembang. Program ini dipimpin oleh Artati Tyas Asmorowati, dengan Tenaga Pendamping Lapang Ika Milawati(Wonogiri Timur dan Klaten), Sukini (Wonogiri Selatan dan Barat), Retno Damayanti (Rembang), Nur Halimah (Administrasi dan Keuangan). Sedangkan untuk wilayah Sukoharjo dan Surakarta diampu langsung oleh Koordinator Program.

Program ini ditargetkan bisa menjangkau 3 provinsi yaitu Jawa Barat dengan target peserta sebanyak 791 orang, Jawa Tengah dengan Target Peserta 512 orang, dan Daerah Istimewa Yogyakarta sebanyak 890 orang. Tujuan dari program ini adalah adanya peningkatan pendapatan kelompok perempuan usaha kecil dan difable melalui jalur penjualan e-commerce, yakni penjualan secara online. Untuk kepentingan itu, PERSEPSI menggandeng Tokopedia.

“Keluaran diharapkan dari program ini  secara nasional adalah: 1) Sebanyak 2115 kelompok perempuan usaha kecil  terlatih dalam tata cara permasaran secara online dan  2) sejumlah 750 kelompok perempuan usaha kecil mendapatkan pendampingan, dan diharapkan dapat meningkatkan penjulaan produk dan 3) sebanyak 75 kelompok usaha difable mendapatkan pendampingan, dan diharapkan dapat meningkatkan penjulaan produk melalui e-commerce” kata Tri Yuli Umiyati, SP, Wadir Permberdayaan Perempuan dan Usaha Kecil Mikro (PP UKM) PERSEPSI dalam kesempatan hadir pada acara pelatihan di Desa Pulutan Wetan, Kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri. Pembukaan dilakukan oleh Sekretaris Desa ini pada Juli 2020.

Konfirmasi kepada Koordinator Program ini, Artati Tyas Asmorowati, S.Hut, “Kemajuan yang menjadi beban tanggungjawab PERSEPSI yang sudah dicapai Kooridnator Program berupa a) terkumpul 474 data tentang perempuan usaha kecil mikro yang tersebar di Kabupaten Wonogiri, Sukoharjo, Surakarta, Klaten dan Rembang, dan 465 diantaranya sudah dilatih bagaimana membuka toko secara online;  b) terkumpul data dan  terlatih 38 difable pelaku usaha kecil mikro yang berada di Kabupaten Klaten,   c) sejumlah 465 perempuan usaha kecil mikro telah mendapatkan pelatihan penggunaan aplikasi Tokopedia (e-commarce), d) Sebanyak 38 difable telah mendapatkan pelatihan penggunaan aplikasi Tokopedia (e-commarce)  berupa pelatihan meliputi membuka akun pribadi, membuat toko online, mengupload produk, serta tips dalam melakukan penjualan secara online” katanya di sela sela merekap kegiatan lapangan”dengan demikian masih tersisa 9 orang yang belum dilatih karena belum memungkinkan dilakukannya tatap muka karena mereka berada dalam Zona Merah dalam wabah pandemic Covid 19, yakni Kabupaten Sukoharjo dan Kota Surakarta”, tambahnya.

“Pelatihan ini dikawal bersama oleh Wadir PPUKM, PKLH dan PPSJI, SDM PA untuk memastikan bahwa produk produk olahan hasil pertanian, kelompok usaha kecil , dan proses pelatihan terkelola secara baik serta peningkatan SDM staff, untuk mencapai target dan membawa perubahan bagi inovasi program PERSEPSI” kata Yanti Susanti S.Ag, saat dikonfirmasi tentang program ini.

(ppsji/tw/ag’20)

WWF GANDENG PERSEPSI UNTUK KERJASAMA DENGAN OTORITAS JASA KEUANGAN

(Wonogiri, 26/3/2020). Diskusi pendahuluan digelar PERSEPSI dan World Wild Fund for Nature (WWF) di Kantor Wonogiri, Jumat 13 Maret 2020. Hadir pada acara ini Bp Joko Sarjito dari WWF Indonesia, dan Edhy Supriyanto (Wadir PKLH), Taryanto Wijaya  (Wadir PPSJI), dan Nur Halimah (Manajer Kantor Wonogiri). Diskusi membahas latar belakang maksud dan tujuan serta area terpilih untuk usulan program yang hendak diusulkan. Dikusi menyepakati usulan teman program seputar “Implementation on Sustainable Financing for Improving the Non Forest Timber Product” untuk bisa disiapkan oleh PERSEPSI dan akan dipresentasikan WWF di hadapan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Pusat di Jakarta ada 30-31 Maret 2020.

OJK sedang menyiapkan Panduan untuk Pemberdayaan UMKM oleh Lembaga Keuangan, yang akan diadosi oleh semua bank Pemerintah, dan membutuhkan pemodelan pelaksanaan di lapangan. Usulan program ini dalam rangka pelaksanaan Panduan tersebut sebelum diluncurkan ke Lembaga Keuangan. Program ini dilakukan OJK dan WWF di Jawa, Sumatra dan Kalimantan untuk bisa menangkap keragaman tanggapan atas kesulitan pelaksanaan Panduan tersebut.

Sebagai awalan, PERSEPSI mengusulkan pelaksanaan Panduan tersebut pada Pengembangan Pemasaran Produk Hasil Hutan Bukan Kayu dari wilayah Jawa Timur (Ponorogo) dan Jawa Tengah (Wonogiri), dengan skala prioritas dari Jawa Timur. Wadir PKLH mengawal kerjasama ini hingga terjadinya kesepakatan kerjasama dengan OJK dan atau WWF Indonesia pada semester I 2020.

(ppsji-tw)

MENGGAGAS DAN MENYIAPKAN KULIAH FILSAFAT BAGI AKTIFIS

oleh: Taryanto Wijaya

 Mungkin terasa aneh bagi sebagian kalangan ketika para aktifis harus kuliah filsafat. Tetapi ini adalah sesuatu yang mungkin dan sumberdayanya ada.  Bagaimana seorang aktifis secara sendiri dan bersama akan bisa melakukan perubahan secara mendasar, konseptual dan berkelanjutan jika tidak ada kerangka berpikir kritis pada pengelolaan proyek atau programnya. 

Berpikir kritis adalah buah dari tradisi filsafat. Karena dengan berpikir kritis para aktifis tidak akan terjebak pada apa yang tampak di dataran permukaan, tetapi tajam menghunjam sampai ke akar persoalan (root cause). Solusi yangulan tepat hanya bisa diambil ketika seseorang atau sebuah tim kerja bisa berpikir kritis dan bertindak seksama melalui berpikir runtut, sistematik, obyektif dan mendalam serta menyeluruh. Kemampuan demikian diperoleh melalui keterlibatan dan perkualiahan maupun tradisi dialektika dalam organisasi.

Adanya sejumlah ahli di PERSEPSI, sesuatu yang mungkin didayagunakan oleh bagian pengembangan SDM untuk mendukung penyiapan kemampuan baru pada SDM yang ada guna menghadapi tantangan dan perubahan pada 3 tahun mendatang. Forum diskusi mingguan atau bulanan bisa menjadi ajang untuk membahas penugasan penugasan dari pembimbing, sedangkan proses kelas dilakukan secara online pada waktu yang ditentukan atau melalui akses ke website tertentu. 

Ini karena perubabahan dinamika yang ada tidak cukup dihadapi dengan kerangka berpikir dan bersikap yang dibangun pada era 1990an, dan membutuhkan pembaharuan pembaharuan tertentu untuk meningkatkan pengetahuan (know what), kemampuan (know how), dan peningkatan daya (ability dan capability) yang lebih menjawab tantangan.

MENAPAK MASA DEPAN MELALUI PROGRAM LOCAL HARVEST

Oleh: Taryanto Wijaya

 (Rembang, 20 Juli 2018, PERSEPSI). Panasnya udara pantai dengan kandungan uap air yang tinggi menjadi masa panen bagi petani garam dampingan PERSEPSI di Kabupaten Rembang. Tubuh tubuh dengan lengam legam kehitaman penuh keringat tampak bersemangat di petak petak pengeringan kolam garam rakyat. Suanan dan rasa ceria muncul ketika gundukan gundukan kristal putih berasa asin telah tampak menggunung di hamparan kolam tambak  yang mengering.

Program  PUGAR (Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat) menjadi kata lokal yang dipakai untuk menyederhanakan Local Harvest  yang rumit, di tengah  SDM dan kelembagaan petani garam  yang lemah dan tata niaga garam nasional yang belum memihak kepada rakyat kecil.

Program yang telah melewati tahun pertama ini mencoba menelisik bersama masyarakat sendi sendi dasar yang menjadikan lemahnya posisi tawar petani garam dalam cara panen dan tata niaga perdagangan garam secara nasional. Ini sebuah upaya memasukan  serat baru ke dalam benang ruwet yang telah berjalin berkelindan tanpa jelas ujung pangkalnya.

Namun kerja cerdas tim pendamping telah mulai menguak aspek  dan tahapan kritis petani garam kita yang menjadi tulang punggung penyediaan garam mineral kebutuhan konsumsi  mineral essensial keluarga Indonesia yakni NaCl (natrium chlorida) sebagai  zat penting yang meningkatkan kecerdasan berpikir, kesehatan tubuh manusia dan cita rasa masakan Indonesia.

Memang tidak sedikit tantangan yang dihadapi.  Lemahnya kelembagaan petani tambah  garam, dan penguasaan tataniaga garam oleh tokoh tokoh lokal yang berlindung di balik koperasi yang ada menjadi kesulitan meretas jerat petani  tambak  garam kita adalah persoalan melingkar lingkat yang nyaris tak pernah usai.

Revitalisasi Koperasi Sari Makmur dipilih oleh PERSEPSI sebagai  sasaran strategis untuk pemberdayaan petani  tambak garam. Koeprasi  yang  berdiri sejak 1999, namun baru diaktifkan kembali  2015, sekretariatnya mengambil tempat di  rumah  ketua di Desa Tambak Agung. Sedangkan anggotanya menyebar di desa Tambak Agung sendiri serta Desa Tunggul Sari, Desa Mojowarno dan Desa Dresi Kulon di Kecamatan Kaliori, dengan jumlah  sebanyak 115 orang.  

Koperasii  Sari Makmur sendiri memiliki modal  Rp 25 juta berasal dari simpanan anggota berupa SP : Rp 50.000,- dan SW : Rp 5.000,-. Keputusan RAT terakhir menunjukan SP naik menjadi Rp 200.000,- dan SW sebesar Rp 10.000,- dengan pembayaran dilakukan setahun sekai pada waktu musim garam. Usaha utama  bersama adalah yang dilakukan Koperasi ini adalah 1) pemasaran garam ; 2) pengadaan surat jalan penjualan garam; 3)penyambungan pipa dan 4) pengadaan geo isolator, 5)  Pertemuan rutin bulanan hanya dilakukan oleh pengurus pada tanggal antara 1 – 10 setiap bulan.

Kondisi  produksi garam yang diproduksu berupa garam grosok, dengan penjualan langsung maupun dikumpulkan di gudang garam yang berada di lahan masing-masing. Kebanyakan penjualan dilakukan ke tengkulak. – Kandungan NaCl rata-rata rendah berkisar antara 83 – 88 (sudah melalui pencucian). Pencucian untuk menaikkan kadar NaCl. Sedangkan standar untuk garam industri kadar NaCl nya > 93. Pengukuran kadar NaCl dengan menggunakan alat yang dimiliki oleh Dinas Kelautan dan Perikanan .

Sementara itu, pengolahan garam oleh koperasi belum dilakukan secara maksimal karena keterbatasan alat yang dimiliki, yakni berupa mesin selep, oven dan ayakan. Sedangkan yang belum dimiliki adalah alat untuk pencucian, sedangkan standar harga garam hanya berdasar penglihatan secara kasat mata. Harga untuk Kw 1 yaitu yang bersih, putih adalah Rp 1.150,.  Pembuatan garam ada yang menggunakan geo isolator maupun tanpa alas dan ini berpengaruh terhadap waktu, kapasitas dan kualitas produksi. Dari kapasitas produksi selisih 1/3 lebih banyak yang memakai geo isolator.  – Modal yang dibutuhkan dalam 1 kali musim panen berkisar Rp 100 juta rupiah.

Program ini menjadi tantangan baru bagi PERSEPSI untuk bisa hidup dan berkembang  dan berdaya bersama dengan para petani garam di wilayah pantai pantai di Indonesia, dan diawali dari keberhasilan di Rembang. (tw-ppsdi)

MENGIBARKAN BENDERA INOVASI DESA 2018 sd 2020

Wonogiri, 10/1/2019.  Kesulitan memasuki desa dengan isu isu lama terpatahkan dengan adanya pengelolaan isu inovasi desa. a Bermodalkan pengalaman lapang, jaringan kerjasama, dan sumberdaya manusia dimiliki, dan keterlibatan di tim tim kelompok kerja di sejumlah kabupaten, maka langkah baru ditempuh elalui 3 jalur, yakni menjadi Anggota Tim Inovasi Kabupaten dalam Program Inovasi Desa PID, dan Tim Penyedia Peningkatan Kapasitas Teknis Desa P2KTD.

Rintisan Inovasi Desa digeluti masuk di 4 kabupaten, yakni Bantul , Kulonprogo dan Wonogiri, serta Klaten. Inovasi Desa merupakan program besar yang dirintis oleh Kementerian Desa,bekerjasama dengan Kantor Pemerintahan Desa di tiap Kabupaten. Inovasi sebagai proses menemukan dan membangun nilai nilai baru, diharapkan bisa menjadi awalan baru bagi PERSEPSI untuk masuk lebih dalam ke desa desa di 4 kabupaten tersebut guna mewujudkan visi dan misi kelembagaan yang ada, serta pengembangan program program baru.

Kompetensi PERSEPSI di 4 kabupaten tersebut dipandang lebih mampu dalam pengembangan untuk bidang pendampingan sumberdaya manusia untuk isu isu sebagai berikut: 1) peningka atan kapasitas teknis budidaya tanaman pertanian (jeruk keprok, cabai organik, 2) budidaya jamur tiram,  3)  pembuatan gula semut, 4) perencanaan desa wisata.

Berikut adalah desa desa di Kabupaten Wonogiri yang telah memanfaatkan jasa layanan PERSEPSI sebagai P2KTD.

 1) Kec. Sidoharjo, desa Mojoreno pelatihan pengolahan jamur tiram,bermitra Jarpuk Solo, Ngudi Lestari

2) Kec. Bulukerto, fasilitasi pelatihan budidaya jeruk keprok,

3) Kec. Jatipurno, fasilitasi pembuatan kompos,

4) Kec. Paranggupito,  narasumber dan penyelenggara keuangan desa dan monitoring dan survey pengembangan potensi desa.

Pengelolaan Program Inovasi Desa di PERSEPSI dipercayakan kepada Wadir PPSDI dengan melibatkan wadir dan saff lain yang berkompeten serta para pengurus dan pengawas .  Kemendes memperkenalkan program inovasi melalui Bursa Inovasi Desa sejak akhir 2018.

KEMITRAAN USAHA SEBAGAI POLA KELOLA PROGRAM PERSEPSI

(Klaten, 5 Nov. 2019). Disadari sepenuhnya, bahwa kecermalang dan kebagusan ide menjadi kunci penting PERSEPSI untuk bisa tetap eksis dan diterima banyak pihak dalam melangkah mencapai cita cita kelembagaan. Tidak mengherankan jika tim program dan manajemen PERSEPSI seperti mengubah halun dan meretas jalan baru dengan segenap lika dan likunya.

“Inovasi menjadi semangat semua lini” tegas Farida Hayati, saat melihat dari dekat proses proses dan kemajuan rintisan program baru 2018 sebagaimana  dimandantkan di Rapat Umum Anggota, maupun Rapat Gabungan dan  Rapat Kerja Tahunan,”karenanya setiap pihak di dalam lembaga ini harus menyuguhkan nilai baru dari proses dan hasil kerjanya” tandasnya.

Menindaklanjuti kebijaan tersebut, sejumlah pendekatan dilakukan untuk bisa meraih kerjasama dengan berbagai lembaga lain melalui skeme kemitraan usaha.

“Kami mencoba memvariasikan antara program sertifikasi pengelolaan hutan rakyat dengan standar FSC, satu model didanai oleh lembaga funding, dan model yang lain melalu kemitraan usaha” kata Edi Supriyanto. Sebagaimana diketahui publik, PERSEPSI didukung oleh World Wild Fund for Nature (WWF Indonesia) untuk penyiapan hutan rakyat di beberapa daerah di Ponorogo, Lumajang dan Pacitan, dan juga oleh PT SOSIAL BISNIS INDONESIA kegiatan serupa di Kabupaten Karanganyar dan Sragen.

Sementara itu, “Upaya menata dan memanfaatkan lahan PERSEPSI sebagai bagian dari rancangan pengembangan ekowisata dikembangkan dengan Dr. Kintoko untuk aspek pengembangan produk olahan dan dengan Dr Baiquni untuk aspek manajemen dan pemasaran” sebagaimana disampaikan  Nasrah di sela rapat gabungan.

“Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, berupa getah pinus telah dijajagi dan sampai kepada penandatangan MoU kerjasama untuk 30 tahun ke depan” tegas Yanti Susanti  melanjutkan pembicaraan hasil negosiasi Wadir PPSDI dengan Direktur PT Aura Bhumi Sejahtera dan PT Sylva Oleum Nusantara di Kabupaten Wonogiri, Ponorogo dan Pacitan. 

“Program Local Harvest mencoba membangun kemitraan antara para petani garam dengan investor usaha berbasis konservasi mangrove di pantai utara Jawa di Kabupaten Rembang” tandas Tri Yuli Umiyati,  Wadir PPUKM yang sedang menyiapkan lokasi dan kelompok sasaran dengan bekerja secara lintas bidang kerja di PERSEPSI. 

Program program di atas menjadi rintisan baru yang masih menyediakan tantangan di sana sini dari segi kebaruan atau inovasi konsep, pendeatan, penataan kelembagaan, fasilitasi pemasaran, dan teknologi pengolahan dan sistem informasi kelembagaan Satuan Pengelola Hutan Rakyat. Pola kelola program dengan kemitraan usaha menunutut PERSEPSI untuk menafsir ulang pemahaman sebagai organisasi nirlaba, maupun peningkatan kapasitas tim dan organisasi dan untuk mendapatkan input guna berdaya dan berjaya dalam jangka panjang.

Klaten,  November 5 , 2018

 

PERSEPSI DAN TANTANGAN SADAP GETAH PINUS RAKYAT

Wonogiri, 26//2018/PERSEPSI. Hasil hutan kayu sudah banyak didengar. Tetapi hasil hutan bukan kayu belum banyak digarap sebagai isu program yang seksis dan memberi daya dukung bagi pembiayaan operasional PERSEPSI.

Perbincangan dengan sejumlah eks staff Timber Forest Trust, saat bertemu di Jakarta maupun pembicaraan lewat telepon, akhirnya ditindaklanjuti dengan pembicaraan yang lebih operasional menjadi program berbasis dorongan pasar. Getah pinus hutan rakyat menjadi inti pembicaraan antara Tim PERSEPSI dan eks staff TFT sebagai perpanjangan dari kelompok pembeli (Buyer Group). Pembicaraan di Wonogiri pada awal Juli 2018, yang merekomendasikan adanya study mikro atas wilayah pasokan getah pinus dilakukan di Ponorogo dan Pacitan. Walhasil, hasil studi ini diminat kelompok pembeli, dan dijajagi untuk bisa menjadi program bersama dengan buyer group pada hari Minggu 5 Agustus 2018 di Fave Hotel Jl Colomoadu Solo, jam 10.00-12.00.

Akan hadir dalam diskusi tersebut dari PERSEPSI diwakili oleh Yanti Susanti (Direktur), Taryanto Wijaya (Wadir PPSDI), Edhy Supriyanto (Wadir PKLH), dan Tri Yuli Umiyati (Wadir PPUKM). Business Meeting tersebut bertujuan untuk menyekati platform bersama dan pembagian peran dalam pengelolaan dan pemasaran hasil hutan bukan kayu berupa getah pinus rakyat dari sejumlah daerah yang didampingi oleh PERSEPSI. Kabupaten Ponorogo, Pacitan, Tulungagung, dan Wonosobo, menjadi lokus yang ditawarkan untuk kerjasama jangka panjang dengan perusahaan pengolah getah pinus rakyat.

ppsdi tw

PENJAJAGAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU PADA HUTAN RAKYAT BERSERTIFIKAT LESTARI

Wonogiri (PERSEPSI, 6/07/2018).  Bertempat di Aula Kantor Wonogiri, dilakukan diskusi penyiapan penjajagan program baru. Diskusi dihadiri oleh para  Wadir PKLH, PSDM PA, PPSDI dan Bp Sigit dari Timber Forest Trust (TFT) untuk mengusung  gagasan pemanfaatan getah kayu pinus sebagai sumber pendapatan masyarakat selain kayu.

“Potensi ini masih besar dan belum banyak dimanfaatkan. Kami punya jaringan untuk pemasaran yang barangkali bisa digunakan untuk mendayagunakan potensi masyarakat” kata Sigit TFT melalui telepon ketika mengkonfirmasi rencana kehadirannya.

Sebagaimana diketahui potensi getah pinus menyebar  pada desa desa yang diampingi PERSEPSI di hutan rakyat di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Desa Baosan Lor, Baosan Kidul, dan Mrayan  merupakan desa bersertifikat ekolabel dengan standar LEI  maupun FSC. Tetapi karena penguasaan pasar yang kurang baik, serta teknis budidaya yang tidak diajarkan secara baik, menjadikan pinus pinus rakyat.  Desa Baosan Lor telah disertifikasi dengan standar LEI , sedangkan Mrayan dengan standar FSC.

Kegiatan kerjasama pengembangan program diharapkan bisa memperbaiki 1) teknolohi pengelolaan,2) pengembangan kelembagaan, 3) kelancaraan pemasaran  usaha hutan rakyat dan pemanfataan hasilnya bagi masa tunggu panen kayu di tingkat masyarakat.

Sebagaimana diketahui getah pinus merupakan bahan dasar untuk pembuatan gondorukem yang dipakai untuk industri cat, dimana kebutuhannya besar tetapi pasokannya kecil. Selama ini gondorukem banyak dipasok dari Perum Perhutani KPH Lawu DS, dan beberapa hutan rakyat di Lampung. Hutan rakyat di jawa yang mengelola pohon pinus menjadi prioritas untuk mendapatkan dampingan agar mendapatkan nilai ekonomi yang lebih luas. (ppsdi-pklh-tw)

 

TANTANGAN BARU PERSEPSI: MENYIAPKAN PETANI SEBAGI PEMILIK BADAN USAHA KEHUTANAN

Tahun 2015-2018 benar-benar tahun penuh tantangan bagi manajemen program PERSEPSI. Betapa tidak, jenis standar pengelolaan, cakupan wilayah, dan tuntutan pasar yang harus dijawab makin hadir di depan mata.

 

Upaya untuk meneguhkan pemihakan pada petani hutan rakyat (grower) di Jawa oleh berbagai pihak menunjukan tanda-tanda kesungguhannya. Hal itu sekurangnya ditunjukan oleh 3 hal, yakni 1) adanya dukungan dari Departemen Kehutanan (BP DAS Solo dan BP2HH Wilayah Surakarta) yang memfasilitasi MoU antara Aliansi Pengelola Hutan Rakyat Lestari (APHRL) Jawa Madura dengan PT Indeks di Sukoharjo, 2) MoU antara SSC Forestry Swedia dengan APHRL Jawa Madura, dan 3) MoU antara PT Sutarindo Pasuruan dengan FMU Enggal Mulyo (Ponorogo) atas dukungan dari WWF dan IKEA.

Keberadaan petai hutan rakyat sebagai penumbuh pohon (grower), industri pengolahan (extractor), dan kelompok penjual sebagai pemasar (marketer) masing-masing memegang peranan penting dalam menyangga mata rantai kelestarian hutan rakyat dan pemanfaatan hasilnya secara adil dan merata serta berkelanjutan. Untuk itu, keberadaan petani ke depan harus mulai digeser di samping sebagai penumbuh juga sebagai pemilik (owner) badan usaha bersama industri pengolahan, dan badan usaha milik negara yang (Perum Perhutani).

Upaya menyiapkan petani hutan rakyat untuk memiliki perusahaan patungan bersama (joint venture corporation)  atau Perusahaan Tri Partit sedang disiapkan oleh Selopuro Business Meeting Point (SBMP) bekerja sama dengan  Perhimpunan untuk Studi dan Pengembangan Ekonomi dan Sosial (PERSEPSI) dan SSC Forestry (Swedia) dan Perum Perhutani Pusat Juni 2014-hingga Desember 2016.  Perusahaan Tri Partit ini menempatkan FMU Hutan rakyat sebagai pemasok kayu sertifikasi, Asosiasi FMU sebagai pemilik perusahaan, sekaligus pengelolaa usaha dalam kerangka bisnis untuk bisa memasok produk hasil hutan ke pasar Swedia dan Eropa.

Ada 3 tahapan pemberdayaan penting dilakukan dalam hal ini yakni 1) penyiapan kelembagaan dan sumberdaya manusia, 2) penataan sarana dan prasarana fisik dalam tata letak produksi, dan 3) penggarapan pesanan dan pemasarannya secara terkoordinasi, rapih dan berkelanjutan.

Program penyiapan Sertifikasi Berkelompok (Group Certification ) dengan standar Forest Stewardship Council (FSC) baik di Kecamatan Senduro (Lumajang) maupun Punung, Donorojo dan Pringkuku (Kebumen) menjadi pendekatan baru untuk mengefektifkan pengelolaan program. Dukungan dari IKEA dan WWF diharapkan memberikan upaya lebih kuat dalam mempromosikan PERSEPSI sebagai NGO yang juga mampu sebagaimana yang dilakukan oleh PT SOBI.  Sertifikasi Berkelompok memungkinkan dikembangkan di luar Jawa untuk 2018-2020.

Sebagai organsiasi nirlaba, tetapi harus menyiapkan kelompok dampingan dalam rangka mencari laba (waralaba) melalui bisnis berbasis pengembangan sumberdaya lokal, tentu menjadi tantangan baru yang harus dijawab oleh PERSEPSI dengan konsep yang jelas, kebijakan yang tegas, dan alokasi sumberdaya manusia yang konsisten dan kreatif.

PPSDI – PKLH

Kontak Kami

Perhimpunan untuk Studi dan Pengembangan Ekonomi dan Sosial (PERSEPSI)

 

Kantor Pusat :

Perhimpunan untuk Studi dan Pengembangan Ekonomi dan Sosial (PERSEPSI)

Jl. Klaten-Jatinom Km. 3 Kwaren, Ngawen, Klaten, Jawa Tengah- Indonesia

Telp. +62 272 322211

Fax. +62 272 322865

E-mail. persepsi@indo.net.id

 

Kantor Cabang Wonogiri :

Perhimpunan untuk Studi dan Pengembangan Ekonomi dan Sosial (PERSEPSI)

Jl. Cempaka VI No. 1,  Pokoh, Wonogiri, Jawa Tengah 57615

Tilp/Fax : 0273-322059

Email : persepsi@indo.net,id